Saturday, December 8, 2012

Ratusan Siswi dan Mahasiswi Terjun Ke Dunia Prostitusi


Ratusan Siswi dan Mahasiswi Terjun Ke Dunia  Prostitusi Mengejutkan dan memprihatinkan, ternyata ratusan siswi dan mahasiswi Kabupaten Ponorogo, Jatim, terjun ke dunia prostitusi. Padahal, Kabupaten Ponorogo dikenal sebagai kota seribu pondok pesantren, kental dengan kehidupan keagamaan. Ternyata, berlangsung sejak lama sejak beberapa tahun terakhir.
  “Kesimpulan itu, hasil dari penelitian selama beberapa bulan terakhir ini, membuat kami kaget atau terbelalak. Ternyata, dunia prostitusi disini, mulai dirambah anak-anak muda khususnya mahasiswi, siswi tingkat SMU dan ada juga status SMP,” jelas Direktur LSM Derap Ayu Dyah Wulandari, kepada wartawan, Ahad (1/3).
  Ia menyatakan jumlah ditemukan mencapai 200 anak lebih, hal sekaligus mementahkan anggapan dunia prostitusi didominasi wanita dewasa. Kini, ‘diramaikan’ mereka berstatus pelajar dan mahasiswi, dikemas dengan sangat rapi serta tidak mudah untuk bisa membawanya.
  Soal alasan terjun ke dunia prostitusi, tambahnya, terbanyak akibat disakiti pria seperti pacar maupun teman akrab, lalu mereka melampiaskan cara balas dendam. Disusul, ingin memiliki penampilan mewah seperti punya motor terbaru, mobil hingga telepon seluler terbaru atau terkini, terakhir ingin mencari nafkah tambahan.

  Data itu, didukung hasil temuan PMI setempat, sebanyak 4 orang berstatus pelajar dinyatakan positif mengidap HIV/Aids. “Mereka ditemukan positif mengidap HIV/Aids, saat melakukan cek darah. Atas temuan itu, dilaporkan ke Dinas Kesehatan, 4 pelajar itu kini dalam pengawasan,”  ujar Kepala UTD PMI Cabang Ponorogo Suparto.
  Menanggapi fenomena itu, Ketua Komisi X (Bidang Pendidikan) DPR-RI Heri Achmadi menyatakan sebagai salah satu kegagalan dunia pendidikan, karena kurikulum diberikan tidak lagi mengedepankan tingkat perilaku baik kepada pelajar. Sekolah tidak ubahnya seperti lembaga kursus atau tempat untuk mendapatkan ijasah semata.
  “Kami dari komisi X, sering menyampaikan kepada pemerintah agar ditambahkan program penilaian budi pekerti dan ahklaq, memiliki konsekwensinya kembali kepada para guru. Diusulkan juga, mata pelajaran dalam ujian nasional perlu ditambah dengan perilaku para siswa,” ujar pria kelahiran Ponorogo ini.
  Ia juga menilai sisi lain membuat perkembangan anak menjadi merosot, akibat tayangan televisi yang tidak mendidik. Peran guru dan orang tua juga harus maksimal menekan pengaruh negatif. “Orangtua jangan melepaskan perhatian dan merasa cukup ditumpukan kepada guru,” tandasnya.

0 komentar:

Post a Comment