Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan

Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan

Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan

Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan

Reog Ponorogo

Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan

Friday, February 15, 2013

MENCARI KEBAHAGIAAN

Thursday, February 14, 2013

Tetapkan Mantan Kadishub Ponorogo Tersangka


tersangka

Berita Ponorogo . penanganan masalah tenaga non prosedural di dinas perhubungan, ponorogo, sudah memasuki babak baru, yaitu dengan ditetapkannya muh damin, bekas ka upt terminal seloaji serta bekas kadishub ponorogo, widi wahyu atmadja, sebagai tersangka oleh kejaksaan negeri ponorogo. 
junianto sh, kasi pidsus kejari ponorogo, didapati usai diadakannya gelar perkara menjelaskan bahwa didalam masalah ini sudah dipisahkan pada muh damin dengan widi wahyu, di mana ada 6 perantara serta 37 tenaga dishub yang menyerahkan duit pelicin pada muh damin yang keseluruhannya yaitu 77 tenaga dishub, dengan jumlah duit yang di terima muh damin meraih sampai meraih rp 918 juta.

Pacar Korban Pembunuhan Ditemukan Dikubur Dalam Kamar

Penemuan jenasah gadis manis ini bermula saat polisi tengah melakukan oleh TKP di rumah almarhum Mega di Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Selasa (12/02/2013) siang tadi,

penggalian-makam-pacar-korban-pembunuhan-ponorogo-ditemukan-tewas-dikubur
Saat memeriksa ruang kamar Mega, polisi menemukan bercak darah yang menempel di tembok. Dari situlah, polisi akhirnya menaruh curiga. Kemudian semua barang yang ada di
kamar tersebut di keluarkan termasuk tempat tidur Mega.
“Di dalam kamar petugas medapati lantai yang baru dicor dengan semen. Cor-coran baru itu ditutupi dengan terpal, karpet dan kasur,” kata akapolres ponorogo Kompol Trisaksono Puspoaji.
Karena menduga ada sesuatu di balik lantai tersebut, polisi langsung melakukan penggalian. Alhasil ditemukanlah mayat Suprihatin.
“Posisi mayat telungkup dengan pakaian masih utuh. Mayat bedada didalam lubang berukuran 120×100 sentimeter dengan kedalam 80 cm,” pungkas Puspoaji di TKP